SELAMAT DATANG DI BLOG GURU INOVATIF PAB (SIDARTHA ADI GAUTAMA, S. Ag., M. Pd)

Kamis, 13 Agustus 2020

5 CARA MENDIDIK ANAK SECARA BUDDHIS

SAHABAT KELUARGA- Umat Budha memiliki cara sendiri dalam mengasuh dan mendidik anak. Dalam ajaran Budha, kesulitan orangtua dalam mendidik anak, terutama dalam pembinaan karakter, disebabkan karena kurangnya orangtua memberikan pemahaman atau pengetahuan tentang Sang Tiratana atau tiga permata yang bernilai agung, luhur, dan mulia. Tiratana terdiri atas Buddha Ratana atau Sang Budha, nabinya umat Budha; Dhamma Ratana atau kebenaran mutlak, dan juga merupakan ajaran Buddha, serta Sangha Ratana atau persaudaraan bhikkhu suci yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (Sotapana, Sakadagami, Anagami, Arahat).

Memiliki keyakinan terhadap Sang Tiratana merupakan landasan ajaran Buddha selanjutnya yakni mengembangkan kasih sayang, meningkatkan kemurahan hati dan memperoleh kebijaksanaan. Sesuai Sigalovada Sutta, untuk memberikan pemahaman tentang Tiratana itu, orangtua mempunyai kewajiban terhadap anaknya sebagai berikut: Pertama, memberi pengertian dan pemahaman, bahwa Tuhan dalam ajaran Budha bukan seperti Tuhan dalam agama lain dan jangan sekali-kali mengajarkan bahwa Buddha adalah Tuhan. Ajarkan kepada anak: Tuhan bukanlah ”sosok” makhluk. Sifat Tuhan dalam ajaran Budha yaitu maha Esa (satu-satunya) dan maha suci (terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha). Tuhan dalam Budha mengacu pada ”Nibbana”, dan perannya sebagai tujuan akhir. Kedua, menerapkan ”Pancasila Buddhis” kepada anak sejak dini, yakni Panatipata veramani sikkhapada samadiyami (melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup), Adinnadana veramani sikkhapada samadiyami (melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan oleh pemiliknya), Kamesumicchacara veramani sikkhapada samadiyami (melatih diri untuk menghindari perbuatan asusila), Musavada veramani sikkhapada samadiyami (melatih diri untuk menghindari ucapan yang tidak benar), dan Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapada samadiyami (melatih diri untuk menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan). Ketiga, jangan mengajarkan anak untuk berdoa agar Buddha mengabulkan permintaannya. Sebaliknya, ajarkanlah kepada anak tentang hukum ”Karma/perbuatan” bahwa segala sesuatu adalah hasil dari perbuatan yang telah kita lakukan. Keempat, menanamkan pemahaman bahwa menghormati patung Buddha bukan berarti menyembah. 

Dalam agama Buddha selalu diajarkan ”Tidak menyembah patung/berhala”. Ajarkanlah, bersujud kepada Buddha adalah bentuk penghormatan kepada ”Buddha Gotama”. Sama halnya dengan menghormat bendera merah putih saat upacara adalah suatu bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjasa. Kelima, jangan takuti anak dengan mengatakan bahwa Buddha akan marah dan menghukum jika ”nakal”. Sebaliknya, tanamkan ajaran, bahwa Buddha selalu mengajarkan cinta kasih. .



Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost%2Fxview&id=249900230

0 komentar:

Posting Komentar